Kumala, dulu Berjaya Kini Tiada


Tadi malam, di facebooK adik bungsu saya mentag . Ternyata dia juga mentag adik saya yang kedua. Ada sebuah foto  dengan caption singkat “Kapan kita bisa ke Buntok dan menjelajah dengan kapal ini?” kontan membuat saya flashback. Teringat beberapa puluh tahun silam.


Kenangan akan kapal itu  tidak bisa lepas dari kenangan almarhum abah. Beliau adalah seorang jurangan (nahkoda)  di salah satu kapal yang tujuannya ke Palangkaraya Kalimantan Tengah. Kapal itu bernama Kumala.


Kapal ini disebut bis air. Karena bentuk dan daya tampungnya yang mampu memuat banyak orang. Bis air adalah satu-satunya kapal penumpang yang bisa mengangkut 150- 200 orang belum ditambah dengan barang-barang yang diletakkan di palka kapal.


Kapal berlantai 2 ini, memiliki panjang kira-kira 30 x 10 x 5 meter. Memiliki 3- 4 toilet umum di bagian belakang kapal, memiliki 1 kantin, 1 kamar untuk pemilik kapal, 1 ruangan mesin, 2 buah televisi untuk menonton video, 1 ruang terbuka untuk menjemur pakaian dan lantai yang luas untuk penumpang tidur.


Ada sebagaian kapal bis air yang menyediakan kursi atau tempat tidur bertingkat. Namun ini khusus kapal bis air tujuan ke daerah lain.


Daerah yang bisa dituju menggunakan kapal bis air ini adalah Buntok, Muara Teweh, Sampit, Ampah,  Negara, Kapuas, Pulang Pisau, Mandomai, dan Palangkaraya.


Sejak  lahir hingga saya berusia 18 tahun. Kapal inilah sarana termurah bagi masyarakat dan mahasiswa  untuk bolak balik Palangkaraya dan Banjarmasin. Dulu belum ada jalan/jembatan penghubung antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah karena masih banyak hutan dan sungai yang memisahkannya. Semua harus melewati sungai.


Perjalanan yang harus ditempuh pun cukup lama bisa lebih dari 24 jam tergantung pasang-surut air sungai, kerusakan mesin, kerusakan lampu jarak jauh dan lain-lain. Sepanjang perjalanan kita akan diberikan pemandangan sungai-sungai besar dan panjang, lebatnya hutan di sisi sungai , kadang bisa melihat bekantan berloncatan, potongan pohon terbawa arus, berpapasan dengan kapal pembawa kayu/batubara, berpapasan dengan klotok kecil, speedboat, dan nelayan yang sedang mencari ikan. Alur sungai yang dilalui berbelok-belok dengan arus yang kadang deras atau tenang. Kapal ini bermesin diesel dan berbahan bakar solar.


Sepanjang perjalanan kapal akan singgah di beberapa pelabuhan untuk lapor, diantaranya di pelabuhan Kapuas, Pelang Pisau, dan Mandomai.  
Di pelabuhan  biasanya kapal singgah selama 10 -15 menit saja, atau cukuplah  untuk makan siang. Karena di pelabuhan terdapat warung-warung makan yang menyajikan berbagai menu makanan. Dan Selama kapal merapat, pedagang asongan pun naik ke kapal atau sampan-sampan kecil mendekati kapal  menawarkan jualannya. Ada air kemasan, susu kotak, snack, minuman soda, kacang, rokok, telur rebus, telur asin, nasi kuning dan lain-lain. Karena kantin di kapal tidak menjual makanan tersebut.


Saya ingat pemandangan yang berkesan adalah saat singgah di pelabuhan Mandomai. Di sepanjang pinggir sungai dekat dengan dermaga ada rumah-rumah unik berbentuk segitiga. Apik sekali.


Terakhir saya menikmati naik kapal abah saat berusia 17 tahun.  Dan setiap liburan selalu ada cerita yang unik yang dirasakan jika ikut kapal abah. Ada suka dan dukanya. Ada cerita asmara sekejap ala anak muda, tertinggal kapal, mencuci kapal, kapal tidak  bisa jalan karena air sungai surut , atau pasang yang tinggi sehingga kapal tidak bisa melewati jembatan yang membentang di sungai Anjir.

Setelah itu saya tidak pernah lagi ikut kapal abah karena diusia 22 tahun kapal mulai mengalami pergeseran dengan moda transportasi darat.


Pertumbuhan dan pembangunan mulai menggeser kehadiran moda transportasi sungai. Dibangunnya jalan trans Kalimantan dan jembatan Barito membuat orang lebih suka ke Palangkaraya melalui darat. Selain jarak yang ditempuh lebih singkat juga bisa bawa kendaraan sendiri.


Berangsur-angsur kapal bis air ditinggalkan penumpangnya. Beralih hanya mengangkut barang-barang saja. Namun ini pun tak bertahan lama.  Dan akhirnya punah dan abah pun terpaksa mengakhiri pekerjaannya sebagai nahkoda kapal.


Sekarang kapal jenis ini hanya bisa ditemui jika bepergian ke wilayah  Kalimantan Tengah. Seperti ke Buntok, S, Ampah, dan Muara Teweh. Dan saya ingin kembali bisa menikmati perjalanan sungai lagi bersama keluarga menuju Buntok. Insyaallah


Yuliana

Komentar