Yang Renta Yang Bersemangat



Jam menunjukkan jam 3 pagi, dia bangun dengan sigap sambil merapikan helaian rambut putih nan panjang dengan tangannya yang penuh urat-urat menonjol, menggelung rambutnya yang mulai menipis. Kemudian bangkit dari ranjang kayunya  menuju kran untuk mengambil air wudhu tentu saja untuk melapor dulu ke Sang Khalik meminta berkah akan hari yang akan dijalaninya.


Dia menuju dapurnya, disana tersusun 3 tungku perapian yang masih menggunakan kayu bakar. Satu persatu tungku tersebut dinyalakan.


Subuh yang dingin mulai terasa hangat dikulit tipis keriputnya.
Masih menggunakan sarung dan kebaya bahan tipis bermotif bunga pakaian sehari-harinya.  Satu persatu baskom yang tertutup rapi dibuka dan adonan berwarna putih dan coklat gula merah mulai mengembang. Aromanya khas.
Dia pun bersiap memanaskan loyang-loyang sebagai pencetak kue tradisional yang dibuatnya.


Kue-kue ini adalah usaha kecilnya yang sudah dirintis sejak 25 tahun yang lalu.


Usaha yang begitu lama digelutinya. Tanpa mengeluh meski harga bahan kue selalu beranjak naik. Kadang kue-kue tersebut tak habis terjual di warung-warung langganannya. Tanpa daya jika para pedagang keliling meminta harganya diturunin buat mereka. Atau kadang para pedagang tersebut dengan seenaknya tanpa memberi kabar tiba-tiba nga jualan padahal dia sudah membikin adonan lebih banyak dari biasanya.Semua dijalaninya dengan ikhlas.


Memang tak ada lagi tanggungan dihidupnya. Sejak ditinggal almarhum suaminya sebagai janda beranak 6. Tak banyak warisan harta ditinggalkan buatnya. Sisa sebuah rumah berukuran 8m x 17m dengan luas tanah sebelumnya  44m x 20m . Namun seiring perjalanan hidup terpaksa terjual satu persatu.
Adonan kue itu mulai dituang ke loyang yang sudah panas kemudian ditutup. Memang dia mempunyai kompor gas layaknya setiap rumah sekarang punya. Namun khusus untuk kue ini, dia memasak ditungku karena akan menghasilkan aroma khas dan warna yang bagus.
Meski dinding dapur jadi hitam pekat karena asap yang dihasilkan kayu bakar menempel. Dan  dari asap tungku yang memenuhi ruangan dapur, batuk-batuk sering menyerang dia sampai pernah TBC. Dia tetap tidak mau berhenti membuat kue.


Anak-anaknya sudah meminta dia untuk berhenti saja dan mengisi hari-harinya dengan fokus beribadah. Namun dia tetap membikin kue.


Terlihat jelas jika dia masih bisa mengatur waktu antara kebutuhan dunia dan ibadah untuk akhiratnya. Masih ikut berjamaah sholat di mushola saat subuh, maghrib dan isya dan ikut acara keagamaan atau arisan di kampung.  


Jam kerjanya memang tampak seharian. Dari subuh sudah bangun untuk memasak kue, siang mengukus kue yang lainnya, sorenya mengadon bahan kuenya sebelum subuh digunakan. Belum lagi kalo ada undangan dari tetangga diminta memimpin doa, dan lain-lain karena dia sudah sepuh.


Menurutnya berdiam diri akan membuat badannya terasa ringkih . Atau jadi mudah sakit-sakitan.
Karena kesibukannya tersebut jam istirahatnya harus diputar. Jam tidurnya pun harus menyesuaikan. Setelah sholat fajar dan dhuha dia akan tidur sampai sebelum zuhur. Dan itulah waktu istirahat versinya.
Dan kebayang nga usia dia berapa sekarang. Seperti tertera di KTP, dia berusia 78 tahun entah itu akurat atau tidak karena zaman behela orang belum begitu mengingat persis tanggal berapa mereka dilahirkan.


Semangatnya yang patut dicontoh. Semangatnya hingga usia rentanya. Semangatnya yang tak mau bergantung pada siapapun. Semangatnya dalam menjalani masa hidupnya lebih bermakna.


Dia mungkin bukan siapa-siapa tapi bagi sebagian anak di kampungnya dia adalah guru ngaji saat matanya masih awas.


Dan ada lagi yang bisa kita contoh dari dia yaitu  mempersiapkan bekal ke akhiratnya bukan saja dengan beramal namun juga persiapan untuk hari kematian yang akan  datang seperti kain kafan, biaya untuk persiapan jika dikubur, tanah makamnya, dan biaya ustad yang mensholatkannya . Dia sudah menabungnya sejak lama.


Kita memang tidak tau kapan waktu kematian datang. Tapi kita memang wajib mempersiapkan baik keperluan di dunia maupun bekal di akhirat, sejak sekarang seperti beliau.


Love you Nenek

Yuliana


*Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day11

Komentar