Pernahkah
kita mempertanyakan kemana sampah kita berakhir?
Pernahkah
pula kita mengikuti petugas sampah membawa sampah kita dimalam hari?
Atau
malah kita sendiri yang ‘melenyapkan’ sampah kita dengan membakar, menimbun di
dalam tanah atau membuangnya ke sungai/saluran pembuangan.
Pernahkan
kita merenungi jika sampah yang kita buang tadi bisa merusak tanah, udara dan
air?
Kemudian
sampah itu terurai menjadi microplastik dan akhirnya kembali lagi ke kita. Namun
sebagai sumber masalah, sumber penyakit, dan sumber polusi.
Sampah
plastik sudah sangat memprihatinkan di sekitar kita. Kita merasa dengan ‘membuang
sampah pada tempatnya’ sudah lebih dari cukup. Padahal sampah yang kita buang itu
hanya berpindah tempat. Sejatinya dia tidak hilang dan hancur. Sampah kita
hanya menghilang dari pandangan mata namun menjadi masalah di tempat lain.
Terutama
sampah plastik. Sampah plastik sangat lama baru terurai atau malah ada yang
tidak bisa terurai sama sekali seperti streofoam. Mengerikan bukan. Jika sampah-sampah
yang tak terurai tersebut berada di dekat tempat tinggal kita. Memenuhi lingkungan
kita.
Dan
kita menganggap dengan membakarnya sudah memecahkan masalah. Padahal masalah
baru saja dimulai. Hasil pembakaran plastik sangat meracuni udara sekitar kita. Yang tentu
saja tanpa di sadari kita telah menghirupnya dan lambat laun akan menimbulkan
masalah pda kesehatan.
Tempat
pembuangan sementara dan akhir sudah sangat penuh belum lagi masalah lokasi
ataupun area pembuangan yang kini tidak cukup menampung sampah kita.
Karena
itulah, Russell Maier beberapa tahun yang lalu mulai memperkenalkan sebuah
solusi untuk sampah plastik. . Solusi tersebut bernama ecobrick.
Ecobrick
adalah menyimpan, memisahkan dan mengepak plastic ke dalam botol yang bisa kita
gunakan sebagai bata bangunan yang bisa dipakai berulang-ulang.
Selain
itu ecobrick juga bisa dibuat menjadi bangku-bangku, petak kebun bahkan tembok.
Membuat
ecobrick sangatlah mudah. Berikut panduannya:
Step
1
Alat/bahan
yang digunakan:
Pakai
botol dengan merk dan ukuran yang sama. Membuat proses pembangunan lebih mudah
Stik
kayu/bambo sebagai alat pendorong plastik ke dalam botol
Step
2
Cara
membuatnya:
Isi
botol dengan Sampah yang tidak terurai (kantong
kresek, sedotan, streofoam, plastic kemasan) dibersihkan dari sisa makanan
dengan dicuci.
Kemudian
plasticnya dijemur kering
Setelah
kering dipotong-potong agar mudah dalam penyusunan dalam botol
Gunakan
tongkat/stik untuk memadatkan
Masukkan
plastik yang lembut untuk memberi warna pada dasar botol.
Mudah
bukan?
Namun
ecobrick ini adalah solusi hari ini. Untuk besok yang terbaik adalah kita
menghindari penggunaan plastik semampu
kita, mulai mengubah ke hidup alami, dan
mengkonsumsi yang organik.
Jika
sampah plastik tak mampu kita hindari baru ecobrick yang kita olah.
Yuliana
#tulisan
ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day4




Komentar
Posting Komentar