Menulis Harus Jadi Bagian Hariku


Menulis memang sudah saya sukai sejak SMP. Rutin menulis diary sejak SMP tepatnya tanggal 17 Februari 1994 menurut catatan buku diary  yang masih rapi tersimpan. Saya juga suka bikin puisi disela-sela bekerja dulu.


Pernah bikin sebuah draf cerpen namun tak pernah selesai karena mungkin saat itu menulis bukanlah prioritas buat saya (drafnya masih disimpan).


Saat itu memang belum ada komputer seperti sekarang. Semua ditulis tangan. Kadang saya menulis di belakang buku sampai pernah juga menulis dikertas yang digunakan untuk membungkus baju pelanggan di toko tempat bekerja. Pokoknya nga bisa liat kertas nganggur deh…pengen corat-coret aja bawaannya..hehe..he


Masih segar diingatan,  SMP kelas 2 saya belajar mengetik menggunakan mesin tik konvensional. Kebayang nga mengetik dengan suara berisik yang dihasilkan mesin jadul  tersebut. Belum lagi keriwehan mengganti tinta yang sering bikin belepotan tangan sehingga ilfil untuk ngetik lagi.


Namun dibalik cerita itu, saya  jatuh cinta dengan teknik mengetiknya dan cara guru saya mengajar. Benar-benar  praktek 10 jari. Kebayang nga, mengetik dengan tutsnya blank alias nga ada hurufnya hanya warna saja sebagai penanda. Terus ujian ngetiknya dengan tutup mata pula. Bikin dag dik dug serrr…... deh


Ditambah lagi begitu susahnya kalo mau latihan ngetik saat itu karena jaman itu mesin ketik cuman ada dikantor-kantor doang dan termasuk benda eksklusif. Jadinya nga semua orang punya sehingga untuk bisa mempraktekkan teknik mengetik lancar 10 jari tanpa melihat apalagi tanpa salah ketik itu terasa mustahil.


Ada lagi yang menjengkelkan saat mengetik pakai mesin tik waktu itu. Kalo nga kuat jarinya maka hasil ketikan nga jelas, terlalu kenceng menekan tuts bisa tembus tuh kertas, jelas harus ngulang lagi. Dan kertasnya nga kayak sekarang udah kertas putih. Dulu burem kertasnya tau kan yang biasa buat stensil atau kayak lembar  ujian gitu itupun harus hemat nga boleh sering salah.
Ngetiknya kudu stabil kalo nga bisa loncat-loncat hurufnya, belum lagi jika jari nga pas naroh  di tuts, bisa ‘terpelosok’ ke dalam mesin…atit tau….


Namun saya menikmati semua prosesnya sebagai bagian dari pengalaman dari perjalanan belajar mengetik saya.
Kembali ke menulis. Saya mulai terbiasa untuk belajar peka terhadap sekitar dan menuangkannya ke dalam tulisan. Mungkin belum sampai berlembar-lembar namun ini adalah awal yang baik.


Konsisten yang terpenting itu kata pakar menulis. Menulislah yang banyak jadikan menulis itu habit maka dengan berjalannya waktu akan menjadi kebiasaan yang akan mengasah keterampilan kita dalam menulis.


Dan buat tujuan sehingga menguatkan kita saat kondisi kita sedang enggan menulis.
Buat saya pribadi, menulis adalah cara saya berkomunikasi dengan diri  sendiri. Saya ingin mempunyai catatan akan apa yang saya alami, kerjakan, pikirkan, dan mimpikan.
Kemudian untuk anak-anak, agar mereka mengetahui  siapa ibu mereka dari tulisan saya.
Sedangkan yang saya pelajari dari artikel-artikel penulisan. Saya tipikal suka menulis deskripsi dan narasi. Saya begitu mengalir jika menuliskan dengan cara penulisan kedua tipe menulis tersebut. 

Terutama jika berhubungan dengan anak dan pembelajaran mereka.
Namun jika menuliskan seperti isi pikiran, pendapat pribadi atau global seperti argumentasi, persuasi masih perlu pengasahan dan jam terbang lebih lagi.


Kadang setiap saya menulis, saya coba bacakan hasil tulisan saya ke anak dan suami. Sehingga mereka bisa mengoreksi akuransi cerita yang saya tulis. Dan feedback dari tulisan tersebut versi mereka.
Setelah rutin menulis. Ada bagian dari otak saya yang merasa haus akan bahan bacaan. Pengen menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan.


Semoga dengan semakin rutin menulis, akan semakin  terampil pula bahasa tulisan dan jenis tulisan yang saya enjoy menuliskannya.  



Yuliana



*Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day10

Komentar