Pernah
nga kita bête saat liat sampah/sisa konsumsi di dapur?
Nga
banget kan?
Ada
sisa kulit buah, batang sayur, biji yang mulai membusuk, nasi sisa makan
kemaren malam, kulit telur , tulang ikan/ayam, dan lain sebagainya. Pokoknya semua
itu jika tak segera disingkirkan akan menimbulkan aroma yang sangat tidak sedap
di dalam rumah.
Dan
biasanya kita akan segera membungkusnya dengan kantong kresek dan langsung membuangnya
ke tong sampah depan rumah. Serta mengharap masalah kita selesai.
OH
NO….!!!
Masalah
sebenarnya baru saja dimulai. Memang kita tidak merasakan dampaknya langsung
namun bertahap dan pasti terjadi bila
pola membuang sampah kita tidak diubah.
Kenapa
mesti diubah?
Karena
membuang sampah saja itu ada aturannya. Harus dipilah.
Dan
sejak dulu kita males memilih. ‘ toh nanti dicampur juga kan sama petugas
sampahnya.’
Atau,
‘ nanti juga akan nyampur semua di TPA.’
Akhirnya
sampah organik tersebut akan bercampur baur tak karuan tanpa kita pedulikan
dampak kedepannya.
Baiklah…sampai
disini, apakah kita mau mulai memilah?
Jawabannya.
Harus!!
Sampah dan sisa konsumsi dari kita kok. Kok orang
lain yang bertanggungjawab, hanya karena merasa sudah membayar sekian rupiah. Sekian
rupiah yang dibayarkan itu bukan menyelesaikan masalah namun hanya memindahkan
masalah , sementara.
Kok
sementara?
Ya
iya, area untuk menampung sampah warga ditiap kota sudah tidak sanggup
menampung lagi. Dikarenakan areanya semakin sedikit, namun sampah semakin hari
semakin banyak. Kita seperti berlomba-lomba memperbanyak konsumsi padahal
sejatinya nga perlu.
Kembali
ke sisa sampah dapur kita tadi.
Mulailah
kita peduli dan cermati tiap sampah yang kita hasilkan.
Mulailah
memilah.
Dan
tambah bagus lagi, mulailah mengolah.
Mengolah
sampah dapur itu sangat simple lho ternyata.
Kita
hanya memilah sampah dapur yang mudah terurai saja.
Terurai
untuk apa?
Untuk
dijadikan komposter. Komposter ini nantinya bisa kita jadikan pupuk. Buat yang
suka menanam atau suka memelihara tanaman sangat cocok ini. Karena biaya
pembuatannya pun murah dan mudah dibuat. Hanya dari dapur kita aja.
Contoh
sampah yang bisa dijadikan komposter : kulit buah, sisa sayuran, dedaunan hijau
atau kering, ampas kopi, ampas teh, bunga-bungaan, serbuk kayu, sekam, cangkang
telur, ranting yang jatuh, rumput dan lain-lain.
Sedangkan
untuk tulang hewan bisa kita buat biopori. Nanti saya bahas dilain tulisan.
Berikut
cara membuat komposter kering (ini yang sudah saya praktikkan)
Pertama
1.
Siapkan
wadah (bisa drum, karung, tempayan air yang besar, gerabah, kardus besar)
2.
Sampah
dapur/ organic yang sudah dipotong-poting kecil (agar proses terurainya cepat)
3.
Air
leri (air cucian beras pertama)
4.
Tanah
(bisa juga sekam) yang ada unsur coklatnya
Kedua
1.
Masukkan
tanah/sekam lebih dulu
2.
Baru
sampahnya
3.
Taburi
air leri
4.
Aduk
dan campurkan semua
5.
Tumpuk
kembali dengan tanah/daun kering
6.
Tutup
rapat
Ciri
komposter kita berhasil jika semua sampah berubah menjadi coklat dan terasa hangat. Jika ada belatung itu tandanya
sampah kita terlalu basah, maka isi kembali dengan tanah/daun kering untuk
penyeimbang. Kira-kira proses menajdi komposter bisa 2 bulan.
Jangan
khawatir dengan belatung yang mucul. Hewan tersebut juga berguna untuk proses
penguraian.
Salam
go green,
Yuliana
#Tulisan
ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day6



Komentar
Posting Komentar