"Yuk, dek kita wudhu…" ajak Alta pada adiknya yang baru berusia 2 tahun lebih
Merekapun berwudhu bergiliran. Kran dibuka. Mulailah satu persatu runutan rukun wudhu dilakukan sang kaka kemudian diikuti si adek yang masih belum tahu untuk apa dia diajak berwudhu siang ini.
Wajah, tangan, kepala, telinga dan kaki. Semua sudah dibasahi. Kemudian 2 bocah kecil ini berdiri berjajar menghadap tembok penuh poster belajar mereka sebagai kiblat.
Alta memulai gerakan sholat diikuti adeknya.
“Allahu Akbar” suara kecil dek Fayyas menyadarkan saya yang sedari tadi sibuk membalas chat di dalam kamar.
Mereka berdua tanpa saling marah, tanpa memerintah saling membantu satu sama lainnya agar bisa sholat bareng.
Saya hanya memandang dikejauhan. Tak ingin menggangu apa yang mereka kerjakan. Tanpa diminta atau disuruh, mereka melakukan sholat siang ini. Meski mereka berdua tidak mengenakan busana khusus sholat. Dan sejadahpun tak mereka bentangkan. Saya tetap tidak menegur atau pun hanya sekedar bersuara.
Saya hanya sempat mengabadikan momen ini. Memang mereka sudah sering melakukannya tapi jarang yang berdua. Fayyas kadang melakukannya sendiri di karpet kesayangannya sehabis dia cuci tangan. Dia bilang mau sholat dulu. Atau Alta yang selalu ikut sholat jika kami sholat dan kadang marah jika tidak mengajaknya bersama.
Kenapa saya hanya diam saja, saat mereka mengerjakan gerakan tersebut. Saya ingin mereka menyukai gerakan sholat sebagai bagian satu aktivitas menyenangkan yang jika dikerjakan akan membuat hati senang.
Membuat mereka mencintai gerakan dan rutinitasnya dulu sebagai sebuah aktivitas menyenangkan. Tak wajib bagi anak usia dibawah 10 tahun untuk diajarkan sholat. Namun sebagai orangtua. Kita wajib mengenalkannya.
Dengan cara apa?
Dengan cara yang menyenangkan dan tanpa beban.
Jika mereka sudah menyukai gerakannya. Berangsur mereka akan mulai penasaran apa yang dibaca saat sholat dikerjakan. Buat semua kegiatan ibadah ini menyenangkan. Tentu saja adab juga harus diajarkan lebih utama.
Adab menutup aurat, adab jika mau berwudhu, adab saat ada orang lain sholat, adab jika sholat di dalam mesjid, dan adab setelah sholat yang tentu saja pengenalannya dengan cara yang baik. Tanpa mengesankan sholat itu suatu paksaan dan memberatkan.
Jika mereka sudah terpaksa melakukannya. Maka kita hanya akan membuat mereka patuh saat bersama kita saja.
Menumbuhkan kecintaan akan ibadah sholat memang tidak instan. Makanya kita punya banyak waktu dari usia 0 sampai 10 tahun untuk mengenalkannya.
Ibadah apapun kenalkan dengan cara yang santun dan menyenangkan. Kita ingin anak-anak kita melakukannya hanya karena Allah. Bukan karena hal lain. Dan kitalah sebagai tauladan utama. Anak-anak akan melihat cara kita beribadah dan mengerjakannya. Dan mereka sangat fasih dalam menangkap gambaran tersebut dari kita. Anak-anak tak pernah salah dalam meniru.
Dan ini berlaku untuk semua hal.
Yuliana
*Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day26

Komentar
Posting Komentar