Hidup Minim Sampah, susah? My Zerowaste Journey




Apa itu hidup minim sampah?
Buat emak seperti saya, hidup minim sampah  memiliki arti yang  simple namun memang butuh niat yang kuat selama menjalaninya. Jadi minim sampah sendiri artinya mengurangi  sampah yang kita hasilkan dengan mencegah, memilah dan mengolah, tujuannya sih bisa menjadi NOL sampah.


Mustahil?
Ya kalo ngga bergerak dari  sekarang, tentu akan tampak mustahil. Namun seperti kata  mba  DK Wardhani seorang ibu hebat. Beliau bilang ‘Mulai aja dari diri sendiri. Mulai aja dari yang kecil dulu. Jika kita sudah konsisten. Maka kita akan mampu menggerakkan orang lain tanpa paksaan untuk ikut berubah dan membuat perubahan lebih besar.’


Sejak mengikuti acara ngobrol bareng Agustus  tahun lalu, saya memulai dengan mencegah. Karena untuk segera minim sampah butuh proses.


Step pertama, saya mulai membawa tas belanja sendiri setiap keluar rumah. Meskipun belum ada niatan untuk belanja. Namun kadang dalam prakteknya, ada aja yang kita liat yang akhirnya terbeli. Tas ini tidak saya beli, tas-tas ini diperoleh dari mengikuti seminar, pelatihan-pelatihan yang bisa saya gunakan kembali (Reuse).


Alhamdulillahnya, di kota saya waktu itu, di Banjarmasin sudah diberlakukan setiap belanja di supermarket atau mini market tidak menyediakan kantong kresek/kantong plastik. Jadi ini adalah  upaya pemerintah kota untuk peduli akan dampak penggunaan kantong plastik di kota Banjarmasin.




Selain menyiapkan kantong belanja, saya juga membuat tas serut yang dijahit  tangan dari bekas ayunan anak ketiga. Kantong ini saya jahit dengan ukuran berbeda. Sesuai apa yang biasa dibeli. (Reuse, Repurpose). Membawa wadah sendiri jika membeli lauk, telur, dan makanan jadi.



Upaya berikutnya, mencegah membeli tissue dengan  menggantinya dengan kain. Kainnya bekas bedong si dedek (Reuse-Repurpose). Dulu kami rutin beli tissue roll hanya untuk bersih-bersih apalagi jika musim flu.





Mencegah sampah di rumah juga harus dimulai sejak berniat untuk belanja. Saya pun mulai mengurangi konsumsi kami yang memiliki kemasan plastik. Membeli dalam kemasan besar sehingga tidak banyak kemasan plastik yang masuk ke rumah. Dan mulai mengolah bahan makanan yang minim sampah.

Seperti sekarang saya sudah tidak membeli bumbu-bumbu instan. Bumbu nasi goreng, bumbu putih, bumbu merah, bumbu ungkep,bumbu bacem, bumbu ikan goreng, semua  bikin sendiri. Dan juga tidak lagi membeli teh celup/teh kantong. Karena pembungkus tehnya ternyata susah terurai. Jadi beli yang kemasan kertas saja. Upaya ini sudah sangat banyak mengurangi kemasan plastik masuk ke rumah.


Step kedua, memilah
Sampah di rumah dipilah sesuai katagorinya: Organic dan Unorganik

Dengan menyediakan tempat sampah yang sudah diberi nama dan warna sehingga anak-anak juga bisa turut dalam projek minim sampah yang saya mulai.

Memilah sampah mana yang akan dijadikan kompoter, eco enzyme, ecobrick, sabun jelantah. Seperti sampah organic sisa sayur dijadikan komposter, kulit buah dijadikan eco ezyim, kulit telur dijadikan pupuk, minyak jelantah diolah nantinya menjadi sabun pembersih, dan sampah plastik dijadikan isian botol ecobrick. Sedang sisa makanan diberikan ke hewan sekitar rumah.









Jadi dengan memilah kita bisa menentukan diawal mau diolah apa sampah-sampah di rumah kita nantinya.

Setelah memilah sudah menjadi kebiasaan, lanjut ke step berikutnya yaitu Mengolah

Mengolah sampah memang butuh ilmu, saya pun yang awalnya buta akan cara mengolah sampah, mulai mencari  ilmu dan membaca buku  yang berisi cara mengolah sampah di rumah  sehingga, tak banyak yang dibuang ke tempat sampah depan rumah.

Sejauh ini, saya mulai mengolah komposter, membuat ecobrick, memfermentasi  eco enzyme, dan membikin sabun jelantah.

 Saya masih belajar dan terus akan mencari  ilmu dalam mengolah sampah  di rumah. Karena dari rumah lah awal sampah berasal. Jadi jika kita mampu mencegah sampah masuk ke  rumah, maka itu sudah bisa mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Susah?

Memang untuk saya sendiri masih ada 2 peer besar yaitu penggunaan popok  sekali pakai meski hanya untuk malam hari saja, karena anak ketiga masih toilet training. Dan juga  penggunaan pembalut sekali pakai. Saya mulai mempertimbangkan mau menggunakan menstrual cup.
Semoga dimudahkan.

Tak ada yang susah jika kita memang punya niat dan misi ke depannya. Belajar minim sampah ini juga saya jadikan bahan belajar buat ketiga anak. Agar mereka bisa menghargai lingkungan dan bumi ini.

Semangat menjadi pejuang zerowaste

Yuliana

*Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP  bersama estrilook Communuty
#Day2



Komentar

  1. keceee.. aku suka.. aku sukaaa..

    BalasHapus
  2. makasih. butuh bimbingan terus nih

    BalasHapus
  3. Senang banget bisa mampir ke blog ini. Saya jadi tertarik dengan eco enzim. Tapi semuanya juga menarik.

    BalasHapus

Posting Komentar