Diam Di Rumah, Siapa Mau?


14 tahun yang lalu, aku memutuskan untuk meninggalkan hingar bingar dunia bekerja dan hanya mengabdi kepada suami saja. Memang bukan pilihan mudah. Godaan untuk selalu berkarya di luar rumah berkali-kali datang.


Saat lelah mendera karena harus berkecimpung pada rutinitas yang tak ada tantangannya membuatku merasa terbuang dari dunai sosial. Aku yang dulunya begitu aktif bekerja dan suka berkompetisi dalam hal kesempurnaan  pekerjaan. Kini harus diam di rumah tanpa ada yang bisa kukerjakan selain mengurus anak dan melayani suami.


Sebenarnya bisa saja kembali bekerja setelah melahirkan atau saat anak sudah bisa berjalan. Karena toh ada ART yang membantuku di rumah. Namun aku merasa saat itu juga berat meninggalkan suami yang  jarang di rumah karena wilayah kerjanya di luar kota.
Namun keinginan menyenangkan dia saat dia pulang, membuat aku mengurungkan niatku. 


Saat itu teknologi tidak seperti  sekarang. Hape pun masih dengan fitur terbatas. Telepon dan sms doing. Tak membuat pikiran berkembang.


Demi membunuh kejenuhan, aku mulai mencari kesibukan yang tidak  meninggalkan anak dan mengacuhkan suami. Akupun mencari kegiatan yang disukai  namun bisa diatur kapan akan melakukannya. 


Mulailah memaksimalkan apa yang kubisa, bahasa Inggris adalah satu-satunya yang dikuasai saat itu. Bermodal nilai yang bagus di sekolah dan pengalaman menghadapi berbagai native speaker, aku membuka bimbingan belajar dan les privat untuk anak-anak.

Memang secara financial tidaklah sepadan. Namun bukan tujuan materi yang kucari. Keuangan suamiku sangatlah lebih dari cukup saat itu. Aku ingin berkarya, ingin dihargai dan punya kepercayaan diri meski  hanya seorang Ibu rumah tangga.


Berangsur-angsur aku mulai belajar banyak hal, mulai tertarik banyak ilmu pengembangan diri, pendidikan dan parenting.


Membentuk satu komunitas dan memiliki jejaring membuatku menemukan passion.

Berada di rumah saja di zaman sekarang, banyak hal yang bisa dikerjakan. Ada banyak informasi dan wadah untuk mengupgrade diri. Ada banyak jaringan yang bisa diperdayakan. Semua itu hanya butuh konsekuen dan konsisten.
Berada di rumah tak ada yang salah. Menjadi ibu rumah tangga biasa juga tak ada yang salah. Yang salah adalah tidak melakukan apa-apa dan hanya terpaku dengan peran tersebut.


Sekarang aku menikmati pilihan ini. Berada di rumah ragaku namun pikiranku bisa menjelajahi ruang tanpa batas dengan internet. Aku bisa menyuarakan apa yang dirasakan dengan tulisanku . Aku bisa menimba ilmu dengan sangat leluasa.


Dan seperti bunyi hadis yang selalu kupegang; ‘Tempat terbaik seorang perempuan adalah rumahnya.’ Dan rumahkulah hijabku. Di rumah aku tetap bisa berkarya. Dari rumah aku bisa berdedikasi. Dari rumah aku bisa menjadi diriku sesuai fitrahku.
Jadi masih mau tinggal di rumah?
Yuliana


*Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama EstrilookCommunity
#Day28

Komentar