Tak ada yang instan, tak ada yang harus diburu
ataupun kompetisi dalam mengajarkan anak untuk belajar melepas popok atau
istilah sekarang toilet training. Semua memang
punya waktunya sendiri-sendiri.
Secara
fitrah anak-anak memang diberikan insight untuk bisa mandiri dalam urusan
BAK/BAB ini. Dan sebagai orang tua tugas kita mendampingi mereka sesambil memberikan
pengertian bagaimana sebaiknya membersihkan diri dan adab di kamar mandi.
Tiap
anak berbeda kesiapan untuk bisa mandiri BAK/BAB, ada yang sejak bayi udah ditatur
atau selepas ASI 2 tahun.
Banyak
factor yang mempengaruhi seorang anak bisa mandiri membersihkan diri. Kesiapan anak
dan orang tua juga menjadi pengaruh utama.
Kemudahan
penggunaan popok sekali pakai membuat
fitrah anak mengenali hasrat BAK/BAB itu terganggu.
Saya
jadi teringat bagaimana orang jaman dulu melatih anak-anak mereka tanpa popok. Padahal
rata-rata mereka punya anak lebih dari 3 dengan jarak yang sangat dekat. Rasanya
nga kebayang rempongnya. Yang satu baru bisa jalan, terus yang satu masih ASI
ekslusif sedang sang ibu juga sedang hamil muda. Tanpa ART dan tanpa akses
informasi bagaimana mengasuh banyak anak ditambah menyiapkan kebutuhan rumah
untuk sang kaka dan suami.
Saya
juga membayangkan urusan bobo malam. Bagaimana sepetnya mata harus begadang
terus menerus karena anak-anak yang
silih berganti minta perhatian dan urusan membersihkan BAK/BABnya. Darai situlah
saya merenung, mereka bisa kenapa saya tidak.
Nah,
keberadaan popok sekali pakai inilah yang membuat orangtua jaman now terlena dengan kepraktisan dan kemudahan yang
ternyata sangat merugikan lingkungan.
Permintaan
yang terus meningkat diseluruh dunia membuat produsen popok sekali pakai
memproduksi dengan skala banyak pula. Pohon industri sebagai bahan utama mulai
ditanam dan ditebang sedang bumi sangatlah butuh keseimbangan untuk
keberlangsungan kehidupannya.
Belum
lagi urusan sampah popok yang masih sangat susah terurai. Butuh berpuluh-puluh
tahun untuk tanah menguraikannya. Dan manusia adalah sumber kezaliman untuk
bumi.
Untuk
itulah saya mulai berpikir beralih, tidak lagi menggunakan popok sekali pakai karena
jujur ada rasa enggan jika harus membuangnya ke tempat sampah.
Setelah
belajar zerowaste, saya mulai belajar hidup minim sampah dan popok sekali pakai
awalnya adalah agenda yang sungguh berat untuk dihilangkan dari rumah selain
pembalut.
Jadi
toilet training juga tergantung kesiapan orangtua selain kesiapan si anak.
Putra
ke 3 saya sudah selesai ASI 2 tahun dan mulai perlahan-lahan diberi pemahaman
mengenai apa itu fungsi toilet, Nazis itu apa saja, cara membersihkan alat
kelamin, membersihkan diri sehabis BAK/BAB, dan penggunaan celana dalam. Karena
selama ini jika pakai popok tidak lagi mengenakan celana dalam.
Tak hanya
saya yang harus siap, seluruh anggota rumah; suami, putra sulung dan putri kedua
juga disiapkan untuk proses toilet
training adiknya. Mereka semua punya andil besar.
Bulan
Oktober 2018 dimulailah proses toilet training yang diawali dari melatih lepas
popok di siang hari saja. Secara bergantian kami membagi tugas. Namun sebelumnya
kami briefing dulu. Jika adik mereka berhasil BAK/BAB di kamar mandi maka semua
harus memberikan penghargaan baik dengan memuji, bersorak dan bernyanyi.
Jadi
tiap kata sakti “mau pis/ee”, itu diucapkan si dedek maka semua bersiap di
depan toilet untuk memberikan semangat dan pujian.
Cara
ini berhasil dalam 2 pekan. Dedek udah bisa mengenali hasrat Pipis/pubnya. Memang
kecelakaan kecil seperti masih pup/pipis dicelana kerap juga ada di bulan
pertama. Jalani aja. Dan buat itu bagian dari melatih kesabaran semua orang.
Target
awal memang membuat anak paham mengenali hasrat dan tahu tempat BAK/BAB itu
harus ke kamar mandi. Itu yang utama.
Kemudian
bulan ke 2, mulai lancar untuk urusan pipis. Udah bisa bilang, nahan sampai
dalam kamar mandi/lepas celana dan siram sendiri. Namun masih di lantai kamar
mandi bukanduduk di toiletnya.
Kesiapan
dan tidak membuat stress si anak itu yang terpenting. Sudah tahu bahwa BAK/BAB
di tempat itu aja sudah bagus.
Di bulan
ke 3, anak mulai lepas popok di malam hari dan BAK/BAB duduk di toiletnya bukan
di celana. Dan kali ini 2 cowok saya
yang bertugas.
Si sulung
bertugas membangunkan dedeknya tiap malam untuk pipis (2-3 kali dalam semalam)
karena dia tidur dengan dedeknya meski beda kasur. Sedangkan suami mengajarkan
untuk BAK/BAB duduk di tempatnya.
Alhamdulillah
akhirnya kami sudah tidak lagi beli popok sekali pakai. Tak ada lagi sampah popok
digantung depan pagar rumah.
Lega
rasanya.
Kami
sudah bisa mengurangi sampah kami 95%.
Yuliana
*Tulisan
ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day22

Komentar
Posting Komentar