Bye Bye Popok! Zerowaste Journey




Tak ada yang instan, tak ada yang harus diburu ataupun kompetisi dalam mengajarkan anak untuk belajar melepas popok atau istilah sekarang toilet training. Semua memang  punya waktunya sendiri-sendiri.



Secara fitrah anak-anak memang diberikan insight untuk bisa mandiri dalam urusan BAK/BAB ini. Dan sebagai orang tua tugas kita mendampingi mereka sesambil memberikan pengertian bagaimana sebaiknya membersihkan diri dan adab di kamar mandi.



Tiap anak berbeda kesiapan untuk bisa mandiri BAK/BAB, ada yang sejak bayi udah ditatur atau selepas ASI 2 tahun.



Banyak factor yang mempengaruhi seorang anak bisa mandiri membersihkan diri. Kesiapan anak dan orang tua juga menjadi pengaruh utama.




Kemudahan  penggunaan popok sekali pakai membuat fitrah anak mengenali hasrat BAK/BAB itu terganggu.



Saya jadi teringat bagaimana orang jaman dulu melatih anak-anak mereka tanpa popok. Padahal rata-rata mereka punya anak lebih dari 3 dengan jarak yang sangat dekat. Rasanya nga kebayang rempongnya. Yang satu baru bisa jalan, terus yang satu masih ASI ekslusif sedang sang ibu juga sedang hamil muda. Tanpa ART dan tanpa akses informasi bagaimana mengasuh banyak anak ditambah menyiapkan kebutuhan rumah untuk sang kaka dan suami.



Saya juga membayangkan urusan bobo malam. Bagaimana sepetnya mata harus begadang terus menerus karena  anak-anak yang silih berganti minta perhatian dan urusan membersihkan BAK/BABnya. Darai situlah saya merenung, mereka bisa kenapa saya tidak.



Nah, keberadaan popok sekali pakai inilah yang membuat orangtua jaman now  terlena dengan kepraktisan dan kemudahan yang ternyata sangat merugikan lingkungan.


Permintaan yang terus meningkat diseluruh dunia membuat produsen popok sekali pakai memproduksi dengan skala banyak pula. Pohon industri sebagai bahan utama mulai ditanam dan ditebang sedang bumi sangatlah butuh keseimbangan untuk keberlangsungan kehidupannya.



Belum lagi urusan sampah popok yang masih sangat susah terurai. Butuh berpuluh-puluh tahun untuk tanah menguraikannya. Dan manusia adalah sumber kezaliman untuk bumi.



Untuk itulah saya mulai berpikir beralih, tidak lagi menggunakan popok sekali pakai karena jujur ada rasa enggan jika harus membuangnya ke tempat sampah.



Setelah belajar zerowaste, saya mulai belajar hidup minim sampah dan popok sekali pakai awalnya adalah agenda yang sungguh berat untuk dihilangkan dari rumah selain pembalut.



Jadi toilet training juga tergantung kesiapan orangtua selain kesiapan si anak.



Putra ke 3 saya sudah selesai ASI 2 tahun dan mulai perlahan-lahan diberi pemahaman mengenai apa itu fungsi toilet, Nazis itu apa saja, cara membersihkan alat kelamin, membersihkan diri sehabis BAK/BAB, dan penggunaan celana dalam. Karena selama ini jika pakai popok tidak lagi mengenakan celana dalam.



Tak hanya saya yang harus siap, seluruh anggota rumah; suami, putra sulung dan putri kedua  juga disiapkan untuk proses toilet training adiknya. Mereka semua punya andil besar.



Bulan Oktober 2018 dimulailah proses toilet training yang diawali dari melatih lepas popok di siang hari saja. Secara bergantian kami membagi tugas. Namun sebelumnya kami briefing dulu. Jika adik mereka berhasil BAK/BAB di kamar mandi maka semua harus memberikan penghargaan baik dengan memuji, bersorak dan bernyanyi.



Jadi tiap kata sakti “mau pis/ee”, itu diucapkan si dedek maka semua bersiap di depan toilet untuk memberikan semangat dan pujian.



Cara ini berhasil dalam 2 pekan. Dedek udah bisa mengenali hasrat Pipis/pubnya. Memang kecelakaan kecil seperti masih pup/pipis dicelana kerap juga ada di bulan pertama. Jalani aja. Dan buat itu bagian dari melatih kesabaran semua orang.
Target awal memang membuat anak paham mengenali hasrat dan tahu tempat BAK/BAB itu harus ke kamar mandi. Itu yang utama.



Kemudian bulan ke 2, mulai lancar untuk urusan pipis. Udah bisa bilang, nahan sampai dalam kamar mandi/lepas celana dan siram sendiri. Namun masih di lantai kamar mandi bukanduduk di toiletnya.

Kesiapan dan tidak membuat stress si anak itu yang terpenting. Sudah tahu bahwa BAK/BAB di tempat itu aja sudah bagus.



Di bulan ke 3, anak mulai lepas popok di malam hari dan BAK/BAB duduk di toiletnya bukan di celana.  Dan kali ini 2 cowok saya yang bertugas.


Si sulung bertugas membangunkan dedeknya tiap malam untuk pipis (2-3 kali dalam semalam) karena dia tidur dengan dedeknya meski beda kasur. Sedangkan suami mengajarkan untuk BAK/BAB duduk di tempatnya.



Alhamdulillah akhirnya kami sudah tidak lagi beli popok sekali pakai. Tak ada lagi sampah popok digantung depan pagar rumah.
Lega rasanya.
Kami sudah bisa mengurangi sampah kami 95%.


Yuliana

*Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day22




Komentar