Teringat
waktu SD, sering ditanya apa cita-cita
saya. Dan saya selalu menjawab menjadi guru. Menjadi pengajar seperti guru
favorit kala itu. Namun seiring waktu, tokoh yang dikagumi itu pindah dan saya
tak memiliki lagi pigur seorang guru yang menyenangkan itu.
Tahun-tahun
berlalu SMP, SMK cita-cita saya mulai mengerucut. Menjadi guru bahasa Inggris karena
pelajaran favorit. Namun untuk menjadi
guru yang mengajar disebuah sekolah sangat jauh dari mimpi.
Perekonomian
keluarga yang membuat saya harus mengubur keinginan tersebut. Akhirnya mimpi
itu pun menguap dan hilang kemudian berubah-ubah seiring usia dan kesibukan
yang dilalui.
Keinginan
bisa berbagi apa yang di kuasai itu tetap besar. Namun bukan lagi menjadi guru
sekolah. Karena ternyata sekolah membuat saya tidak happy. Hapalan demi hapalan
yang membuat saya harus mengejar angka-angka akademis terasa menghilangkan empati pada sekitar. Kemudian saya berpikir,
apa nanti jika saya menjadi guru, juga
akan membuat anak didik stress dengan pelajaran
yang disampaikan?
Saya
pernah membuat bimbingan belajar bahasa
Inggris di rumah orangtua, yang saat itu
dipercaya membimbing 40 anak yang terdiri dari SD kelas 4 sampai SMA kelas 1
untuk anak-anak di daerah tempat saya tinggal dengan biaya hanya Rp 1.000/masuk.
Sayang harus kandas karena kapasitas tubuh tak sesuai dengan passion. Yang akhirnya
harus bubar.
Tahun
berlalu, bla…bla…
Meski
terkesan terlambat, saya mulai menggali
minat, bakat dan potensi diri dengan berbagai komunitas dan pengikuti kelas-kelas
belajar. Mulai mengerucutkan apa yang saya ingin pelajari dan kuasai sehingga
nantinya ilmu-imu tersebut bisa dibagikan
untuk orang lain dengan biaya minim atau malah gratis.
Tahun
berganti dan teknologipun sangat maju pesat dibanding masa sekolah dulu. Media menyalurkan
minat menjadi lebih luas. Tanpa harus berprofesi menjadi guru di sebuah
sekolahan pun saya bisa berbagi ilmu
yang dimiliki.
Dan
dengan dukungan suami serta anak-anak,
saya mengawali dengan ikhtiar untuk
pendidikan terbaik mereka dengan menjadi
guru/fasilitator belajar di rumah.
Kemudian
berangsur mulai perrcaya diri membuat projek di tahun 2019 ini untuk bisa
berbagi lebih luas lagi. Seperti menjadi tamu online, mengisi kulwap dan
akhirnya mulai membuat kelas berbagi per tema.
Kelas
fotografi adalah kelas pertama yang saya buat. Dengan 13 teman belajar bersama.
Kemudian
kelas sabun jelantah, diikuti 22 teman.
Bukan
masalah jumlah yang ingin dikejar. Namun
ada kepuasan tersendiri setelah berbagi ilmu yang dipelajari. Apalagi melihat
antusias dan semangat teman-teman digrup untuk praktik.
Media
online sangat memungkinkan membuat sebuah kelas virtual/online untuk belajar
bareng.
Tanpa
harus menunggu sempurna, saya memulainya. Dan akan terus berproses selama ilmu
ini berguna buat masyarakat luas.
Mimpi
saya ingin berbagi apa saja yang dipelajari dan kuasai untuk orang lain baik
online maupun offline.
Kini
dengan percaya diri saya mulai menyebut diri sebagai inspirator, motivator, dan
educator.
Yuliana
*Tulisan
ini ikutsertakan ODOP bersama Estrilook Community
#Day19

Komentar
Posting Komentar