9 Langkah Membantu Anak-anak Yang Stress Pasca Bencana





Bencana memang tidak bisa diduga, tak terencana dan tiba-tiba datangnya. Sehingga persiapan untuk menghadapinya sangat minim diketahui.
Bencana itu bisa berupa : banjir, tanah longsor, gempa, tsunami, gunung meletus, dan lain-lain.



Tak ada yang mengharapkan semua itu terjadi pada kita. Dan tak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi jika bencana itu datang pada kita.



Semua  terjadi sangat cepat. Kehilangan tempat tinggal, rumah, harta bahkan anggota keluarga. Dan anak-anak lah yang paling merasakan dampak terburuk.



Kejadian yang begitu cepat tersebut. Membuat mereka yang tak tahu menahu atau malah tak mengerti terkena imbasnya.
Rasa takut akan terjadi lagi dan kehilangan anggota keluarga membuat mereka  putus asa meski anak-anak tersebut tidak smua mampu mengutarakan apa yang mereka rasakan dan alami.



Kenangan buruk tersebut akan terekam kuat meski anak-anak yang belum bisa bicarakan seperti bayi sekalipun.



Stress pasca bencana juga bisa karena tinggal sementara di penampungan/keluarga lain, melihat orang-orang terluka dan meninggal.



Reaksi traumatik anak-anak usia 2 -18 tahun berbeda-beda disesuaikan dengan rentang usia mereka. Anak 2 tahun memang belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakan namun mereka akan mudah marah, sering menangis atau ingin digendong terus.
Usia 3-6 akan merasa putus asa karena kejadian yang menakutkan dan usia 7-8 tahun akan mengganggu fokus mereka di sekolah.
Untuk 11-18 tahun traumatik mereka lebih menganggap dunia ini sudah tidak aman lagi. Akhirnya mereka melakukan hal yang berisiko sebagai pelarian.



Ada berbagai hal yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi traumatik tersebut :
·         Berikan perhatian khusus seperti memeluk, membelai dengan lembut



·         Berikan informasi mengenai apa yang telah terjadi dan rencana apa untuk pemulihan secara tenang



·         Beri ruang untuk mengekspresikan perasaannya seperti menggambar, mengajak mengungkapkan apa yang dirasakan, atau membaca cerita


·         Selalu damping anak kita jika mengalami traumatik tersebut. Baik tidur bersamanya atau menemaninya sebelum tidur


·         Tetap jalankan rutinitas seperti biasa agar tak ada waktu sendirian


·          Ajak anak terlibat dalam tugas-tugas yang bisa membuat anak merasakan dan membantu pemulihan keluarga dan komunitas seperti ikut dalam penggalangan dana dan ikut menemani anak lain melewati trauma.



·         Sekecil apapun usaha anak selama bertanggungjawab puji dan hargai


·         Anak-anak itu unik maka reaksi mereka juga beragam pasca bencana jadi kita pun harus sadar akan hal tersebut



·         Ajak anak ikut dalam mempersiapkan jika terjadi bencana


Bangun komunikasi dengan anank-anak. Dengan memperhatikan kebutuhan baik fisik maupun psikis.




Yuliana

*Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day20




Komentar