Bencana
memang tidak bisa diduga, tak terencana dan tiba-tiba datangnya. Sehingga persiapan
untuk menghadapinya sangat minim diketahui.
Bencana
itu bisa berupa : banjir, tanah longsor, gempa, tsunami, gunung meletus, dan
lain-lain.
Tak
ada yang mengharapkan semua itu terjadi pada kita. Dan tak ada yang bisa
menduga apa yang akan terjadi jika bencana itu datang pada kita.
Semua
terjadi sangat cepat. Kehilangan tempat
tinggal, rumah, harta bahkan anggota keluarga. Dan anak-anak lah yang paling
merasakan dampak terburuk.
Kejadian
yang begitu cepat tersebut. Membuat mereka yang tak tahu menahu atau malah tak
mengerti terkena imbasnya.
Rasa
takut akan terjadi lagi dan kehilangan anggota keluarga membuat mereka putus asa meski anak-anak tersebut tidak smua
mampu mengutarakan apa yang mereka rasakan dan alami.
Kenangan
buruk tersebut akan terekam kuat meski anak-anak yang belum bisa bicarakan
seperti bayi sekalipun.
Stress
pasca bencana juga bisa karena tinggal sementara di penampungan/keluarga lain, melihat
orang-orang terluka dan meninggal.
Reaksi
traumatik anak-anak usia 2 -18 tahun berbeda-beda disesuaikan dengan rentang
usia mereka. Anak 2 tahun memang belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakan
namun mereka akan mudah marah, sering menangis atau ingin digendong terus.
Usia
3-6 akan merasa putus asa karena kejadian yang menakutkan dan usia 7-8 tahun
akan mengganggu fokus mereka di sekolah.
Untuk
11-18 tahun traumatik mereka lebih menganggap dunia ini sudah tidak aman lagi. Akhirnya
mereka melakukan hal yang berisiko sebagai pelarian.
Ada
berbagai hal yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi traumatik tersebut :
·
Berikan
perhatian khusus seperti memeluk, membelai dengan lembut
·
Berikan
informasi mengenai apa yang telah terjadi dan rencana apa untuk pemulihan
secara tenang
·
Beri
ruang untuk mengekspresikan perasaannya seperti menggambar, mengajak
mengungkapkan apa yang dirasakan, atau membaca cerita
·
Selalu
damping anak kita jika mengalami traumatik tersebut. Baik tidur bersamanya atau
menemaninya sebelum tidur
·
Tetap
jalankan rutinitas seperti biasa agar tak ada waktu sendirian
·
Ajak anak terlibat dalam tugas-tugas yang bisa
membuat anak merasakan dan membantu pemulihan keluarga dan komunitas seperti
ikut dalam penggalangan dana dan ikut menemani anak lain melewati trauma.
·
Sekecil
apapun usaha anak selama bertanggungjawab puji dan hargai
·
Anak-anak
itu unik maka reaksi mereka juga beragam pasca bencana jadi kita pun harus sadar
akan hal tersebut
·
Ajak
anak ikut dalam mempersiapkan jika terjadi bencana
Bangun
komunikasi dengan anank-anak. Dengan memperhatikan kebutuhan baik fisik maupun
psikis.
Yuliana
*Tulisan
ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community
#Day20

Komentar
Posting Komentar